Skip to content

Paha Ayam

Hari ini gue makan siang lebih awal dari biasanya. Sekitar jam dua belas lewat sedikit. Maklum, setahun belakangan jadwal makan mulai mengikuti jam kerja: fleksibel. Sarapan jam sebelas dan makan siang jam tiga sudah bisa dianggap tenggo.

Bukan hanya baik bagi kesehatan lambung (terutama untuk kalian wahai sesama pejuang GERD), makan siang tepat waktu juga memberikan keuntungan ekstra bagi karyawan startup yang dilimpahi katering harian, yaitu bebas cari spot makan ternyaman dan memilih potongan ayam favorit. Paha atas selalu jadi belahan hati gue.

Usai mengirim email ke kandidat terakhir, dengan riang gue melangkah menuju pantry. Jadwal interview yang cukup lengang adalah alasan makan siang menjadi seawal dan sebahagia ini.

Tumpukan nasi kotak warna-warni ramai menghiasi meja pantry. Masih hangat-hangatnya ibarat remaja sedang jatuh cinta. Perlahan tangan gue bergerilya membukanya satu persatu, mencari si belahan hati.

“Nggak akan ada habisnya nyari yang sempurna,” seseorang nyeletuk dari belakang. Ternyata ada yang memperhatikan perburuan gue.

“Emang, makanya gue nyari yang mendekati sempurna aja,” balas gue sambil mengamankan nasi kotak berisi sayur buncis, telur balado, dan potongan paha atas ayam. Dia tertawa kecil membiarkan gue berlalu menuju area makan dekat jendela. Jauh dari keramaian, dekat dengan kaleng kerupuk. Sempurna.

Kedamaian rupanya nggak berpihak lama pada gue. Beberapa menit setelah gue membereskan nasi kotak yang sudah ludes, undangan meeting dadakan datang silih berganti memupuskan harapan untuk memulihkan pikiran dan hati.

Beberapa minggu belakangan perasaan gue nggak enak. Lelah, sedih, muak menjadi satu. Kadang diselingi air mata yang turun tanpa aba-aba. Entah apa penyebabnya.

Burnout lo kayaknya, cuti gih!” kata salah satu teman kerja yang kerap memergoki gue melamun sendirian di pojok pantry.

Diam-diam gue melirik HP yang sepi notifikasi sejak pagi. Dia akan sibuk closing selama seminggu kedepan, katanya. Gue mengehela nafas panjang sambil menaruh HP ke dalam tas. Akal gue cukup dewasa untuk memahami sudah saatnya gue berhenti mengeluh, tapi hati gue masih terlalu egois untuk mengerti nggak selamanya suara dia bisa menjadi tempat berteduh.

Sisa hari gue habiskan dengan bertanya dan berandai. Sampai kapan gue harus mengemis waktu untuk lima menit bertemu? Bagaimana kita bisa tinggal bersama kalau posisi gue ada di baris bawah prioritasnya?

Perasaan ragu pun mulai datang menemani lelah, sedih, muak. Hati gue makin kalut. Mungkin sudah saatnya gue mengatur ulang skala prioritas gue. Untuk apa memprioritaskan orang yang hanya menjadikan gue pilihan? Pilihan terakhir, bahkan.

Gue tutup buku catatan dan laptop tanpa melihat rentetan email dan chat yang masuk setelah gue keluar dari ruang meeting. I need to take the rest of the day off. Screw that.

Gue tengah membereskan barang-barang untuk pulang ketika Pak Nanang, satpam gedung kantor gue, tiba-tiba menepuk pundak gue dan berbisik, “ada titipan, Mbak.”

Sebuah buket mawar putih lengkap dengan pita dan notes bertuliskan “because regular Tuesday can be boring”. Nggak ada nama pengirim. Satu ruangan bersiul-siul melihat gue yang mulai salting. Gagal menutupi rasa senang dan rindu, gue pun mendaratkan diri kembali ke kursi.

Dia memang nggak sempurna. Jauh, bahkan. And I’m fine with that.

He isn’t a whole chicken that makes you feel incredibly full, but he’s the upper thigh cooked well to my liking.

Because by the end of the day we don’t need a perfect one with greatest strength, but one whose weakness we can tolerate at best.

2 Comments

  1. Ms. Gallo Ms. Gallo

    he loves to tease me a lot, until it annoys me very much, but that’s the thing I’d miss everyday from him. His cheerful grins, his smiling eyes, are one of the things I love from him. Cheers! 🙂

    • degadisya degadisya

      sounds lovely – thanks for sharing! <3

Leave a Reply to Ms. Gallo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *