Skip to content

Sebuah Surat Untuk Kandidat

Teruntuk para kandidat yang telah berhasil membuat kami terkesan dan dipenuhi harapan namun terpaksa kalah oleh ia yang lebih cuan;

Teruntuk para kandidat yang merasa telah memberikan segala namun berakhir di penolakan;

Teruntuk para kandidat yang tidak pernah berhenti mencoba.

 

Dear Kandidat,

Terima kasih telah mempercayakan kami menjadi bagian dari penata masa depanmu.

Seandainya kamu lupa, kami pun pernah menjadi kamu.

Kami ingat masa-masa berdebar menanti kabar. Entah baik, entah buruk. Jawabannya sendiri baru bisa ditentukan beberapa bulan atau tahun kemudian setelah kami memetik pelajaran dari sana.

Kami ingat masa-masa belajar mengendalikan emosi. Walau bekerja untuk institusi, tapi kami juga punya suara dan pendapat pribadi. Apa yang kami lakukan memang masih jauh dari sempurna, banyak kekurangan di sana sini. Harap maklum, sebagian dari kami menerima dan mengolah ratusan lamaran setiap hari.

Seandainya kamu tidak sadar, dua halaman berisi rangkuman kisah hidup tersebut memiliki arti tersendiri bagi kami. Dalam waktu kurang dari sembilan detik, kami dapat membayangkan seperti apa rasanya berbincang denganmu di pinggir taman.

Lamaran yang menarik bisa membawa imajinasi kami lebih jauh lagi. Seperti apa kegagalan terbesarmu, apa pelajaran hidup terakhir yang kamu petik, siapa sosok mentor yang paling berperan dalam perjalananmu membangun karir.

Sebuah lamaran memiliki ‘warna’nya masing-masing. Ia harus terasa personal.

Jadi, berhentilah bertanya “seperti apa” dan mulailah membangun “mengapa”. Berhentilah membandingkan prestasi akademikmu dengan pengalaman organisasinya.

Sejujurnya kami tidak peduli berapa banyak baris kata di tiap halaman. Sejujurnya kami tidak perlu tahu nomor rumah atau tempat lahirmu. Sejujurnya kami tidak memusingkan jumlah lanyard kepanitiaan yang tergantung di dekat lemari bajumu.

Kami hanya ingin tahu; mengapa mereka ada di sana?

Beri jawaban yang menguatkan. Kalau ragu, baiknya kamu hilangkan saja. Demi kebaikanmu.

Omong-omong soal tulis-menulis, perkenalkan salah satu kerabat dekat kami, Grammarly. Sering dikaitkan dengan Google Translate karena dikenal dapat menyelamatkanmu dari grammar nazi dan meningkatkan nilai jual di mata kami.

Urusan bahasa, kami tidak neko-neko. Inggris masih menjadi pilihan utama. Lengkap dengan tutur kata formal yang dipikirkan secara matang. Urusan memilih pasangan dan pekerja(an), kami tidak main-main.

Oh, sama halnya dengan kalian, kami juga mengandalkan Google tiap kali bertemu jalan buntu. Tapi sayangnya, banyak orang ketergantungan dengannya hingga menjadi malas berusaha. Bukannya terinspirasi, malah terancam kehilangan identitas diri.

Saat membuat cover letter atau kalimat pembuka di lamaran kerja, misalnya. Tidak jarang kami menerima sejumlah email dengan susunan kalimat perkenalan diri yang senada dan sekata—atau bahkan tanpa embel-embel sapaan sama sekali. Kalau ini skripsi, mungkin mereka adalah pelanggan tetap revisi.

CV belum di review, hati kami sudah mulai ragu.

Bayangkan kamu sedang menjalani kencan pertama dengan si dia, calon pengisi daftar emergency contact-mu. Setelah melewati malam dengan manisnya, di akhir pertemuan kamu baru menyadari bahwa seluruh cerita menyentuhnya adalah dongeng belaka. Semua dilakukan demi merebut hatimu, elaknya. Bagaimana perasaanmu?

Terdengar sepele, tapi bagi kami, kejujuran teramat berarti. Keahlian mungkin menjual, tapi karakter yang membeli.

Kamu dan kami, sama-sama mencari yang terbaik.

 

Dear Kandidat,

Akhirnya kita akan berjumpa. Setelah beberapa minggu terakhir bertukar pesan dan pikiran, kini saatnya kamu bertemu keluarga besar kami.

The Hiring Managers.

Berdebar? Kami apalagi. Kami adalah orang yang paling ingin melihat semuanya berbahagia. Ya kamu, ya kami, ya mereka. Sebuah tugas besar dan terpenting: mempersiapkanmu menjadi kandidat paling dinanti. Kami sudah bertanya dan mendengar banyak darimu, tapi penilaian mereka tentu berbeda dengan kami. Karenanya, tolong jangan pernah bosan saat kami memintamu menggali dan mencari tahu. Lebih dari sekedar nama, kenali mimpi kami. Bandingkan dengan mimpimu. Apakah mereka sejalan?

Untuk apa berambisi menghabiskan delapan jam sehari di bawah atap yang sama tapi enggan saling mengenal?

 

Dear Kandidat,

Banyak hal terjadi setelah pertemuan besar. Rata-rata dihabiskan dengan mengurai argumen dan membuat keputusan. Masing-masing pihak bertahan dengan posisinya, tapi semesta dan daya juang yang menentukan.

Bagi kami, menolak dan ditolak sama perihnya. Rasa ikhlas perlahan kami bangun seraya melayangkan rejection letter untukmu. Membiarkanmu membangun masa depan dengan yang lain. Kecewa, pasti. Tapi, kami pun tidak boleh egois.

Kamu punya mimpi untuk digapai, kami punya tujuan untuk dicapai. Ternyata saat ini arah dan prioritasnya berbeda.

Forbes Top 100 Companies atau perusahaan manapun yang menolakmu bukanlah surga dunia. Di mana pun kamu singgah, ke mana pun kamu pindah, sebaik-baiknya tempat untuk menetap adalah dengan mereka yang mampu memahami kurangmu dan menghargai lebihmu.

Kadang kami salah.

Rupa CV tidak selalu menggambarkan rupa hati. Gaya menulis tidak sama dengan gaya memimpin. Hasrat menggebu tidak berarti hasrat bertumbuh. Dalam waktu terbilang singkat dan keterbatasan suara, kami ‘dipaksa’ membuat keputusan. Menyukseskan atau menyesatkan, katanya. Sebuah keputusan yang tidak mudah. Pergolakan hati sering bermain di sini. Sering kami mengambil waktu yang terlampau lebih lama untuk merenungkan nasib kalian. Nasib kamu. Nasib kami. Siapa bisa jamin ini akan menjadi keputusan terbaik?

Kadang kami cemburu.

Pada mereka yang mampu menawarimu ruang lebih untuk tumbuh, kompensasi lebih untuk melunasi cicilan, atau waktu lebih untuk dihabiskan bersama keluarga di rumah.

Jangan tanya mengapa kami berbeda. Kami pun ingin menjadi lebih, tapi itu hanya sebatas angan. Kami dan segala keterbatasan yang ada, berharap bisa tumbuh bersamamu.

 

Dear Kandidat,

Perjalananmu baru saja dimulai. Tantangan dan paksaan untuk keluar dari zona nyaman sudah pasti akan menjadi makanan, tapi itu semua demi pertumbuhanmu. Satu-satunya pesaing adalah dirimu yang kemarin.

Tenang, kemenangan mereka bukan berarti kegagalanmu. Sukses mereka bukan berarti akhir dari jerih payahmu. Lebih mereka bukan untuk dibandingkan dengan kurangmu.

Semua ada saatnya. Tunggu giliranmu.

 

Salam hangat,

Kami yang berjuang bersamamu

12 Comments

  1. Sekar Sekar

    Twitter membawa ku kesini. Sebagai job seeker saya jadi terhura 🙂

    • degadisya degadisya

      Thanks for reading, Sekar!

  2. Ola Pinata Taluli Ola Pinata Taluli

    Wah its really mindblowing. It makes me imagine what my Application supossed to be. Thanks for sharing Ms Degadisya

    Warm regards

    • degadisya degadisya

      Thanks for reading, Ola!

  3. Fariz Fariz

    Menyentuh sekali tulisannya, kak. Aku suka dan jadi dapat banyak pelajaran mengenai proses seleksi ini. Paling tidak saat ini aku tahu, bahwa melamar dan dilamar sama2 punya pilihan yang berat dan harapan yang besar.

    Terima kasih telah memberikan kesempatan tuk belajar dan berusaha

    • degadisya degadisya

      Hi Fariz, terima kasih sudah membaca. Senang rasanya tulisan ini bisa membantumu mendapatkan perspektif baru. Tetap semangat ya!

  4. ses ses

    saya pernah mencob melamar di tempat di mana saya tau passion saya pasa bagian itu. Tapi sayang, karna saya bukan lulusan sarjana yg sesuai dengan yg perusahaan mau akhirnya saya harus berkali-kali ditolak. bagaimana menyiasatinya? apakah masih harus terpaku pada gelar sarjana yg harus sesuai dengan bidang kerja dan mengesampingkan passion?

    • degadisya degadisya

      Hi Ses, datang dari jurusan atau latar belakang yg dianggap kurang sejalan dengan pekerjaan impian memang butuh usaha ekstra. Kita harus lebih aktif, misalnya bangun relasi dengan hiring team atau orang yg memiliki profesi tsb melalui LinkedIn.

      Anyway, pekerjaan pertama gak selalu harus sesuai passion kok. Aku pun pernah ‘terjebak’ di pemikiran begini dan akhirnya belajar satu-dua hal dari sana. Semoga membantu. 🙂

  5. Nunu Nunu

    saya baca ini dari link twitter.

    terima kasih sudah membahasnya dari sisi Perekrut 🙂
    beberapa kali melamar untuk posisi di luar daerah (berbeda dengan KTP) dan jurusan pendidikan yang saya miliki dan tidak dipertimbangkan, membuat saya mengerti bahwa Perekrut ternyata banyak pertimbangan lain yang tidak saya pikirkan.

    terima kasih sudah mencerahkan 🙂

    • degadisya degadisya

      Hi Nunu, terima kasih sudah membaca! Mencari kerja sama halnya dengan mencari jodoh; walaupun kita percaya masing-masing sudah ada ‘jatah’nya, namun tetap perlu diperjuangkan dan ingat untuk selalu terbuka terhadap berbagai kesempatan. Semangat!

  6. Tassia Tassia

    Terima kasih atas tulisannya, kak. Membawa semangat baru bagi saya pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *